Loading...

Universitas Airlangga

Direktorat Pengembangan Karir, Inkubasi Kewirausahaan, dan Alumni (DPKKA)

Bisnis dengan Modal Koneksi Pertemanan

Berita Alumni | 06 Nopember 2020 07:30 wib
Berwirausaha merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk memerdekakan diri secara finansial. Sebagaimana yang dilakukan oleh Mochammad Baihaqi Al Chasan alumni jurusan sejarah Universitas Airlangga. Sosok yang akrab disapa Baihaqi ini kini telah membangun bisnis yang bergerak di bidang kuliner, yaitu bernama Qia Catering.

Setelah lulus kuliah Baihaqi memang sangat ingin memiliki usaha yang mandiri. Akan tetapi, pada waktu awal memulai usaha Baihaqi berada pada titik yang belum siap untuk berwirausaha. Pengetahuan dan pengalaman soal bisnis bisa dibilang nol.

Baihaqi yang bercita-cita untuk berkecimpung di dunia pendidikan ini menyadari bahwa pendidikan bukanlah lahan yang tepat untuk mencari kebebasan finansial. Maka dari itu ia tetap menggeluti dunia pendidikan, akan tetapi juga berbisnis untuk kemerdekaan finansial secara mandiri.

“Motivasi terbesar saya pada saat memulai usaha adalah keinginan saya untuk terus bisa relevan. Atau bahasa simpelnya adalah kepepet”, ungkap Baihaqi.

Qia Catering bermula ketika suatu hari Baihaqi dihubungi oleh teman lamanya dan mengajak membangun bisnis. Keadaan yang terjadi saat itu adalah tidak memiliki modal, tidak memiliki ilmu wirausaha, apalagi uang. Dan pada saat itu Baihaqi  telah resign dari pekerjaan sebelumnya di sebuah restoran makanan cepat saji.

Berbekal niat dan tekad, Baihaqi beserta kedua temannya mulai membangun bisnis yang berpotensi dibutuhkan oleh banyak orang, khususnya warga kampus. Baihaqi yakin bahwa ia dan teman-temannya memiliki modal sosial, yaitu memiliki banyak kenalan, terutama di lingkungan kampus. Keuntungan sosial tersebut dapat dijadikan sebagai modal usaha. Menurutnya hal itu dapat menjadi modal strategis dalam usaha.

Karena sedari awal tidak memiliki ilmu dan modal material, bisnis yang dijalaninya ibaratkan bayi yang baru belajar jalan, tertatih-tatih. Seiring berjalannya waktu banyak hal yang dapat dipelajari, banyak jalan juga mulai terbuka. Baihaqi mulai membangun relasi dengan anak-anak jurusan ekonomi bahkan Baihaqi juga membangun relasi dengan dosen-dosen fakultas ekonomi.

“Bu Tri Siwi Agustina adalah salah satu dosen yang sangat baik. Beliau dapat menjadi konsumen sekaligus rekan berbagi dalam hal bisnis yang seolah sebagai teman, jadi kenal akrab. Bu Siwi juga memberikan kesempatan untuk terlibat dalam project pemberdayaan masyarakat di Trenggalek. Banyak pengalaman yang sangat luar biasa didapatkan di sana untuk menjadi lebih baik”, ungkap Baihaqi.

Lambat laun Baihaqi mulai menyadari bahwa pengalaman bekerja di sektor bisnis kuliner yang pernah ia tekuni ternyata memberikan begitu banyak manfaat. Seperti bagaimana cara menyajikan  makanan agar tetap baik dikonsumsi, bagaimana cara melayani pelanggan, hingga mengerti mangsa pasar. 

“Saya sangat berterima kasih pada bos saya sebelumnya, yang secara tidak langsung memberi bimbingan kepada saya. Dulunya saya merasa bahwa bos saya galak. Saya baru merasa setelah saya keluar dari restoran cepat saji itu.  Dulu saat bekerja saya merasa banyak tuntutan”, begitu pengakuan Baihaqi.

Setelah menerima penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi wirausaha, Baihaqi tak lupa untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada bosnya dulu. Ia bercerita bahwa dulu ia pernah masak kegosongan. Padahal menurut dia masakan tersebut tidak gosong, tapi dalam standart restoran tempat kerjanya masakan itu termasuk gosong. Dari sanalah ia dapat belajar  dan menjadi tahu bagaimana cara mengelola dan menyajikan makanan dengan baik.

Baihaqi mengaku bisnis yang dijalankan secara bersama-sama itu memiliki lebih banyak tantangannya. Banyak konflik yang terjadi di dalam tim. Cara mengatasinya yaitu dengan mengatur emosi diri sendiri dan memikirkan dampak yang ditimbulkan ke jangka panjang. Baihaqi sendiri mengungkapkan bahwa dalam suatu bisnis kelompok jika tidak memiliki rasa saling pengertian, maka bisnis tersebut bisa tumbang.

Berjalannya bisnis Qia Catering tidak lepas dari peran ibu-ibu yang memasak. Tim Qia Catering bekerja sama dengan ibu-ibu yang direkomendasikan oleh salah satu teman Baihaqi untuk menyajikan makanan. Baihaqi yang membuat menu makanan dan menentukan cara penyajian.

            “Konsep bisnis yang dijalankan Qia Catering adalah  catering harian. Kebanyakan konsumen pelanggan Qia Catering adalah konsumen hasil getok tular. Jadi dari mulut ke mulut. Lebih banyak juga konsumen yang berkelanjutan”, ungkap Baihaqi.

Yang membedakan Qia Catering dengan bisnis lainnya adalah cara pemasaran yang dilakukan. Qia Catering tidak memasang WA bisnis ataupun melakukan paid promote, dan endorsement. Baihaqi ingin menghadirkan diri sebagai real ambassador. Artinya Baihaqi dan timnya sendiri juga merupakan konsumen dari Qia Catering. Dengan begitu konsumen akan lebih percaya bahwa Qia Catering merupakan catering yang jujur dan terpercaya.

Ke depannya Qia Catering akan mengurus Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) untuk legalisasi usaha. Selain itu, Baihaqi dan timnya ingin Qia Catering memiliki dapur sendiri. Dapur yang diinginkan merupakan dapur yang juga berkonsep bahwa pelanggan dapat langsung makan di tempat.

Baihaqi berpesan bahwa untuk berbisnis saat ini sangatlah mudah karena sudah sangat banyak sarana yang dapat digunakan. Yang perlu menjadi catatan adalah memiliki keterampilan membaca data yang kritis. Data apapun, misal data pertemanan.

“Tali silaturahmi yang kita miliki merupakan salah satu bagian kecil tetapi dapat membuat dampak yang besar dalam berbisnis. Say hello kepada teman-teman itu sangat penting. Istilahnya adalah membangun real connection. Selain itu, membangun personal diri yang bagus terlebih dahulu karena pada akhirnya wirausahawan harus mencari konsumen, dan pandai-pandailah mengelola emosi”, begitu pesan yang disampaikan Baihaqi.

Berbisnis dan menjadi kaya raya bagi baihaqi adalah sebuah bonus. Ke depannya ia tidak hanya ingin memiliki kemerdekaan finansial, tapi juga bermanfaat untuk orang lain adalah tujuannya. Baihaqi terus berusaha untuk menjadi pribadi yang pembelajar. Ia seringkali mengungkapkan “Always being relevant apapun situasinya, di manapun tempatnya”. Dari tokoh-tokoh pebisnis yang banyak dipelajari oleh Baihaqi, kebanyakan dari mereka adalah yang dapat beradaptasi dengan keadaan.
Link
Dilihat 98 kali