Loading...

Universitas Airlangga

Direktorat Pengembangan Karir, Inkubasi Kewirausahaan, dan Alumni (DPKKA)

Rumah Kapas bukan Sekedar Konveksi

Berita Alumni | 06 Nopember 2020 12:29 wib
Berawal dari pembuatan baju pre-order yang bekerja sama dengan penjahit rumahan, sekarang Rachmat Agung Widodo beserta timnya dapat mendirikan bisnis yang diberi nama Rumah Kapas. Saat ini Rumah Kapas bergerak di bidang konveksi, penjualan kain, dan juga kaos polos.

Bisnis ini berdiri sejak tahun 2014, hingga kemudian di tahun 2018 mulai dikembangkan dengan pengaturan strategi yang lebih baik lagi. Sehingga pada awal tahun 2019 Rumah Kapas dapat menjual kain dan kaos polos.

Awal kali Rumah Kapas dirintis oleh 3 orang, yaitu Rachmat Agung Widodo, Maria Ami Stella, dan M. Ali Irsyad yang ketiga-tiganya merupakan alumni Universitas Airlangga. Seiring dengan berkembangnya Rumah Kapas, Rachmat dan teman-temannya menggandeng M. Nauval El Ghiffary, Asyfi Dwinanda dan Anang Wahyudi untuk yang bergabung pada tahun 2018. Hingga saat ini total tim dari Rumah Kapas terdiri atas 28 orang dengan pembagian divisi masing-masing.

Rachmat mengaku bisnis ini didirikan dengan niat ingin menebar manfaat sebesar-besarnya kepada umat manusia. Menurut Rachmat, cara mengabdi ke masyarakat itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sehingga Rachmat yang merupakan alumni Fakultas Kedokteran ini mengaku melakukan pengabdian itu dengan cara menjadi dokter dan berwirausaha sebagaimana yang dilakukan oleh panutannya, yaitu Nabi Muhammad SAW.

“Saat ini saya masih aktif di kedokteran, akan tetapi untuk mengabdikan diri lebih besar lagi makanya saya membangun bisnis. Dan untuk menjadi besar itu tidak bisa dilakukan sendiri, maka saya membangun tim”, begitu ungkap Rachmat.

Rachmat menceritakan bahwa modal awal dari bisnis yang mulai membesar ini adalah nol. Yang dimilikinya saat itu hanyalah uang saku kuliah dan motor. Di semester 2 Rachmat mulai bertanya-tanya kepada tantenya yang memiliki konveksi sprei. Ia mencari tahu mengenai penjahit yang bisa diajak untuk bekerja sama. Dan dari sanalah Rachmat bertemu dengan penjahit yang telah di-PHK oleh pabrik yang kemudian diajaknya untuk bekerja sama.

Pelanggan awal bisnis Rumah Kapas ini adalah teman-temannya sendiri. Kemudian seiring berjalannya waktu pasar bisnis ini mulai menyebar luas, bahkan sampai ke luar negeri. Rumah Kapas juga mengirimkan barangnya ke Singapura dan Jerman meskipun secara legal belum tergolong bagus.

Yang membedakan Rumah Kapas dengan konveksi lainnya adalah visi yang dimiliki. Visi dari rumah kapas sendiri adalah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain garmen terbesar di dunia. Karena adanya latar belakang shifting industry, bonus demografi, dan sebagainya, maka Rumah Kapas memiliki visi yang sangat besar. 

Menurut Rachmat, hambatan yang paling sering dialami oleh Rumah Kapas adalah waktu. Karena dengan impian sebesar itu maka waktu dan usaha yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Tetapi seiring berjalannya waktu, Rachmat dan tim menganggap hal tersebut bukan lagi dibuat sebagai sebuah hambatan karena visi yang telah dipegang kuat seluruh tim terus adalah berkomitmen untuk menjalankan bisnis ini sebaik  mungkin.

Hambatan kedua yang juga seringkali dialami adalah komunikasi. Seperti kurangnya sharing informasi dengan tim karena banyaknya kesibukan masing-masing. Untuk hambatan eksternal sendiri adalah modal. Modal ini juga termasuk hambatan banyak konveksi lain. Terutama jika ada pesanan dalam jumlah yang besar. Hambatan eksternal kedua akses dimana mencari bahan baku yang bagus dan terjangkau. Ketiga, adalah bagaimana akses ke klien, bagaimana suatu bisnis penghasil barang bisa melakukan ekspor-impor.

Banyaknya hambatan-hambatan yang ada tidak lantas membuat Rumah Kapas menyerah. Tim dari Rumah Kapas hingga saat ini terus berjuang untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Secara internal tim Rumah Kapas memiliki alokasi waktu untuk berstrategi, memiliki mindset yang sama dan saling percaya bahwa tidak ada yang berniat jahat satu sama lain. Selanjutnya jika ada masalah harus diselesaikan sampai tuntas. Selain itu, untuk menghadapi hambatan-hambatan yang ada, terdapat dua orang dari tim Rumah Kapas yang sedang belajar di China untuk belajar menyelesaikan hambatan yang sedang dihadapi.

Saat ini rumah kapas sendiri sedang membangun aplikasi yang nantinya manjadi sebuah platform antara orang-orang yang butuh garmen dengan tenaga-tengan di Indonesia penyedia garmen. Jadi antara produsen dan konsumen bisa terkoneksi dengan baik.

Bukan sekedar konveksi, tapi Rumah Kapas juga menjalankan seluruh urusan garmen dan tekstil, ibaratnya dari hulu ke hilir.  Itulah kenapa saat ini Rumah Kapas sudah dibagi menjadi 3 divisi, yaitu penjualan kain, yang ibaratnya kain sendiri adalah bahan baku, divisi kedua penjualan kaos polos, yaitu bahan setengah jadi, dan ketiga adanya konveksi.

Untuk 5 tahun ke depan gudang tetap beroperasi dengan terus menambah efektivitas. Tim Rumah Kapas berencana akan juga akan menjual tinta sablon, benang, dan segala macam yang berkaitan dengan dunia garmen.

“Dalam berbisnis yang terpenting adalah visinya. Kalau tidak punya visi bisa lelah dan malas dalam perjalanannya. Tapi kalau kita punya visi dan alasan yang kuat mengapa kita memulai, maka itu juga yang menjadi alasan mengapa kita harus bertahan terhadap perjuangan itu”, begitu pesan yang disampaikan Rachmat. “Visi adalah hal yang bisa membuat kita bisa memulai, membuat kita paham harus berjuang, dan dengan visi kita paham bahwa kita harus bersyukur”, lanjutnya.
Link
Dilihat 108 kali