Loading...

Universitas Airlangga

Direktorat Pengembangan Karir, Inkubasi Kewirausahaan, dan Alumni (DPKKA)

Semua Hal Selesaikan dengan Cara Terbaik

Berita Alumni | 28 Juni 2019 10:13 wib
Tak selamanya pilihan yang dilakukan dengan keputusan cepat dan terkesan grusa-grusu akan mendatangkan hasil yang jelek. Justru pilihan yang dilakukan Estiningtyas Nugraheni, S.K.M., M.Kes. saat memutuskan kuliah di Program Studi Kesehatan Masyarakat -yang pada saat itu belum menjadi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair- demi menghindari kuliah di jurusan kedokteran umum justru menjadi jalan kesuksesannya saat ini.

Esti pun bercerita, ia masuk program studi (prodi) Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada tahun 1988 dan lulus tepat empat tahun pada 1992. Ia mengaku Prodi kesehatan masyarakat bukanlah pilihannya. Karena sebenarnya dia ingin masuk ke fakultas kehutanan atau pertanian.

“Namun, Ibu saya kurang sependapat karena menurut beliau keduanya kurang cocok untuk saya. Beliau menyarankan untuk mengikuti saran almarhum nenek saya agar sekolah di bidang kesehatan,” katanya.

Akhirnya, dia pun menuliskan pilihan pada fakultas kedokteran di pilihan pertama, dan fakultas pertanian pada pilihan kedua. Namun demikian, kebimbangan masih berkecamuk dalam pikirannya.

“Selama perjalanan dari tempat tinggal saya di Pare, Kediri, menuju kota Malang untuk menyerahkan formulir, saya terus berdoa dan bertanya kepada Tuhan untuk meyakinkan apakah pilihan saya sudah benar,” katanya.

“Sebab, sesungguhnya saya masih kurang sreg dengan pekerjaan dokter yang harus menerima uang dari orang sakit,” tambahnya. Saat itu yang terekam dalam memorinya adalah tiap kali harus ke dokter, maka ibu yang akan membayar biaya berobat langsung kepada dokternya. Ya, dia sendiri.

“Saya tidak suka dengan pekerjaan semacam itu,” tukasnya. Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan di kepalanya itu malah membuatnya bingung. Bahkan, dia sampai tidak tahu harus bagaimana memutuskan.

Saat pergi sendirian dengan naik bus antarkota ke Malang untuk mendaftar itu, sampai di Terminal Bus Arjosari dan berganti angkot menuju tempat pendaftaran di kampus Universitas Brawijaya, isi kepala Esti masih ramai berdebat, akan ganti jurusan atau tidak.

Setelah mengantre cukup lama, Esti sampai ke depan petugas penerima berkas pendaftaran. Petugas menyatakan dokumen pendaftarannya sudah benar. Dia pun dipersilahkan untuk pulang.

Pada saat itulah, seperti tergerak otomatis oleh hati nuraninya, tiba-tiba dia meminta kembali berkas pendaftaran dan sejurus kemudian mengganti pilihan dari jurusan kedokteran menjadi jurusan di bawahnya, yakni kesehatan masyarakat. “Tanpa mempertimbangkan apapun. Pokoknya saya ingin ganti saja,” ucapnya lantas tergelak.

Link
Dilihat 275 kali